Pengembangan teknologi hidrogen menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong inovasi energi dan transportasi berkelanjutan di masa depan. Sejalan dengan tren tersebut, mahasiswa Universitas Pertamina turut menghadirkan gagasan inovatif di bidang penyimpanan hidrogen sebagai kontribusi nyata bagi pengembangan energi bersih.
Salah satu bukti nyatanya datang dari Gabriella, mahasiswa Universitas Pertamina yang berhasil meraih Juara 1 Young Scientist Competition 2026. Kompetisi ini diselenggarakan sebagai bagian dari Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama International Fuel Cell and Hydrogen Energy Association (IFHE), berlangsung pada 21–23 Juli 2026 di Assembly Hall, Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran.
Prestasi ini diraih Gabriella melalui karya berjudul “From MOF-5 to ZIF-8: Towards a Practical Hydrogen Storage System for Fuel Cell Electric Vehicles”. Dalam karyanya, ia mengembangkan gagasan sistem penyimpanan hidrogen untuk kendaraan listrik berbasis sel bahan bakar, dengan mengusulkan ZIF-8 sebagai alternatif material penyerap hidrogen yang lebih stabil dan praktis dibanding material sebelumnya.
Gagasan tersebut berangkat dari pengembangan prototipe penyimpanan hidrogen oleh Hydrogen Storage Engineering Center of Excellence (HSECoE) yang sebelumnya menggunakan material MOF-5. Gabriella melihat sejumlah tantangan pada material tersebut, terutama terkait proses sintesis dan stabilitas setelah melalui beberapa siklus pengisian dan pelepasan hidrogen, sehingga ia mengusulkan ZIF-8 sebagai solusi alternatif.
Inovasi ini kemudian diperluas melalui konsep tank swapping station yang terinspirasi dari sistem pertukaran baterai pada kendaraan listrik. Konsep ini menawarkan mekanisme pertukaran tangki hidrogen sebagai alternatif proses pengisian bahan bakar konvensional, dengan mempertimbangkan efisiensi energi dan ketahanan mekanis material penyimpanan.
Bagi Gabriella, karya ini lahir dari ketertarikannya terhadap Metal-Organic Frameworks (MOFs) dan teknologi penyimpanan hidrogen. Dalam prosesnya, ia mengaku mendapat dukungan dari dosen Universitas Pertamina, Dr. Agung Nugroho, Ph.D., yang menjadi rekan diskusi sekaligus membantunya mengakses berbagai referensi ilmiah.
“Winning this competition would hopefully bring this whole idea to life. Sometimes it is not always about winning, but how we turn our random thoughts and ideas into something that can contribute to society,” ujar Gabriella.
Tantangan terbesar yang ia hadapi justru datang saat harus mempresentasikan dan mendiskusikan gagasannya secara langsung di hadapan dewan juri dengan latar belakang beragam, mulai dari mahasiswa pascasarjana, praktisi, hingga akademisi. Pengalaman ini justru menjadi ruang baginya untuk menguji sekaligus memperkuat gagasan yang telah dikembangkan.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, turut mengapresiasi pencapaian tersebut. Menurutnya, prestasi Gabriella mencerminkan kemampuan mahasiswa UPER dalam mengembangkan gagasan ilmiah menjadi inovasi yang relevan dengan tantangan energi masa depan, sekaligus menjadi bagian dari semangat UPER Berdampak.
Ke depan, Gabriella berencana mengembangkan gagasannya menuju tahap prototipe dengan mempelajari sistem kendali, desain, dan optimasi storage vessel. Inovasi ini turut mendukung SDG 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Ingin mengembangkan gagasan ilmiahmu di bidang energi bersih dan teknologi masa depan? Segera cek Pendaftaran Universitas Pertamina dan mulai langkahmu menjadi bagian dari inovator energi Indonesia.
